Friday, February 19, 2010

OPKIM PERMADAH 2010

Salam..lama x berceloteh di sini..kali ni nak cerita ttg Operasi Khidmat Masyarakat (OPKIM) PERMADAH 2010 yg telah diadakan di Taman Permatang Katong, Kota Kuala Muda, Kedah Darul Aman..kami bertolak ke sana pd 12 Feb 2010, bertolak dri UM pkul 11 mlm n tiba di Taman Permatang Katong pd pkul 7 pagi..
Alhamdulillah..syukur ke hadrat Illahi krn OPKIM 2010 berjalan dgn lancar walaupun kekurangan dana..OPKIM PERMADAH 2010 telah diisytiharkan sbg projek yg terbaik di Taman Permatang Katong..terima kasih yg x terhingga diucapkan kpd semua yg terlibat dlm menjayakan OPKIM 2010 ini terutama kpd pengarah : Syazzuwan Zakaria, unit protokol : Istiqaamah Salleh, unit publisiti n multimedia : Arbi Suhadat, unit mknan : Nor Afiza n semua AJK2 yg bertungkus-lumus n berkorban segala2nya dlm menjayakan OPKIM pd kali ni..OPKIM 2010 memberikan pengalaman yg paling berharga n manis dlm lipatan kenangan hidupku..alhamdulillah..segala penat lelah AJK akhirnya terbalas dgn pengisytiharan drpd En.Yusoof Awang iaitu Pengerusi Taman Permatag Katong bhwa OPKIM PERMADAH 2010 merupakan projek terbaik..terima kasih juga kpd semua penduduk Taman Permatang Katong di atas kerjasama n bantuan yg diberikan kpd kami semua..
JOM LAYAN GAMBAQ.......

Monday, February 8, 2010

AKHLAK MULIA DAN AKHLAK BURUK

AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH MENGAJAK MANUSIA KEPADA AKHLAK YANG MULIA DAN AMA-AMAL YANG BAIK[1], SERTA MELARANG DARI AKHLAK YANG BURUK[2]

Oleh :  Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [3]

Sesungguhnya antara akhlak dengan ‘aqidah terdapat hubungan yang sangat kuat sekali. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” [4]


Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk Surga.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” [5]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula:

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya...” [6]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Surga, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Neraka, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Lidah dan kemaluan.” [7]

Ahlus Sunnah juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, menganjurkan untuk bersilaturrahim, serta berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan Ibnu Sabil. [8] Mereka (Ahlus Sunnah) melarang dari berbuat sombong, angkuh, dan zhalim. [9] Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang hina.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah/hina.” [10]


Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” [11]


Akhlak yang mulia dapat menambah umur dan menjadikan rumah makmur, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“... Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur.” [12]


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah sebutkan dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” [Al-Qalam : 4]


Hal ini sesuai dengan penuturan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:


“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” [13]


Begitu pula para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


Dan di antara akhlak Salafush Shalih Radhiyallahu ‘anhum, yaitu:


1. Ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut dari riya’.

2. Jujur dalam segala hal dan menjauhkan dari sifat dusta.

3. Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.

4. Menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5. Berusaha meninggalkan segala bentuk kemunafikan.

6. Lembut hatinya, banyak mengingat mati dan akhirat serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek (su’ul khatimah).

7. Banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, dan tidak berbicara yang sia-sia.

8. Tawadhdhu’ (rendah hati) dan tidak sombong.

9. Banyak bertaubat, beristighfar (mohon ampun) kepada Allah, baik siang maupun malam.

10. Bersungguh-sungguh dalam bertaqwa dan tidak mengaku-ngaku sebagai orang yang bertaqwa, serta senantiasa takut kepada Allah.

11. Sibuk dengan aib diri sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain serta selalu menutupi aib orang lain.

12. Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka ghibah (tidak menggunjing sesama Muslim).

13. Pemalu. [14]

Malu adalah akhlak Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.” [15]

Begitu juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.” [16]

14. Banyak memaafkan dan sabar kepada orang yang menyakitinya.

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf: 199]

15. Banyak bershadaqah, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil/tidak pelit.

16. Mendamaikan orang yang mempunyai sengketa.

17. Tidak hasad (dengki, iri), tidak berburuk sangka sesama Mukmin.

18. Berani dalam mengatakan kebenaran dan menyukainya. [17]

Itulah di antara akhlak Salafush Shalih, mereka adalah orang-orang yang mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia serta dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang harus mempunyai akhlak yang mulia karena akhlak mempunyai hubungan yang erat dengan ‘aqidah dan manhaj. Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah Azza wa jalla dan diberikan kekuatan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum.

Dan tidak boleh seseorang mengatakan: “Salaf itu tidak berakhlak.” Kalimat ini merupakan celaan terhadap generasi yang terbaik dari ummat ini. Adapn kesalahan dari akhlak tiap individu, maka tidak ada seorang manusia pun yang ma’shum kecuali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Thursday, January 21, 2010

KALAU BENAR CINTAKAN ALLAH



Perkongsian daripada sahabat di Facebook (Muhammad Faris) :

Sebutlah nama Allah banyak-banyak. Maksud ayat al Quran dengan kalimah “berzikilah pada waktu pagi dan petang” itu ialah kita berzikir dengan kuantiti dan kuali yang tinggi. Zikir lidah, zikir hati dan zikir perbuatan semuanya menjurus kepada membesarkan Allah, dan segala yang lain kecil belaka.


Lidah menyebut kalimah Allah, lalu hati merasakan kebesaran dan keagungan-Nya, dan tindakan menyusul apabila kita selaraskan segala perbuatan dengan hukum-hakam-Nya. Itulah zikir yang hakiki. Kesannya sepadu. Ia akan memberi ketenangan dan kekuatan.

Namun bila Allah dilupakan, umat akan kurang menyebut nama-Nya lagi. Ketika itu hati-hati pun lalai daripada merasakan kebesaran dan keagungan-Nya. Akibatnya hukum-hakam-Nya diabaikan dalam tindakan dan perbuatan. Bila ini terhadi jangan ditangisi jika Allah “lupakan” kita.

Allah hanya menjadi pembela kepada orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang banyak mengingati-Nya – dengan lidah, hati dan perbuatan. Menjadi seorang muslim sahaja (bukan muttaqin), tidak melayakkan kita mendapat jaminan bantuan daripada-Nya. Siapakah kita, muttaqin atau hanya muslim?

Muslim, lebih-lebih lagi muslim yang fasik, kurang berzikir malah ada yang tidak berzikir langsung. Apakah Allah akan mengingati kita jika kita melupakan-Nya? Lalu terbiarlah kita dihina, dizalimi dan diperkotak-katikkan oleh musuh tanpa mendapat pembelaan.

Sayidina Umar pernah mengingatkan, bahawa dia lebih bimbangkan dosa-dosa yang dilakukan oleh tentera Islam berbanding kekuatan dan perancangan musuh. Dosa-dosa akan menghalang daripada datangnya bantuan Allah kepada kita. Kenapa orang melakukan dosa? Jawabnya, kerana lupakan Allah. Lupa zikir kepada-Nya. Justeru, untuk mendapat kekuatan, elakkan dosa. Dan untuk elakkan dosa sentiasalah mengingati Allah.

Ya, masakan orang yang sentiasa ingatkan Allah tergamak bergelumang dengan dosa? Jika terlanjur sedikit pun mereka segera bertaubat. Orang yang beginilah akan mendapat bantuan Allah dalam apa yang mereka usahakan dan perjuangkan. Mereka disokong oleh kawan dan dihormati oleh lawan. Belum pun bertempik, hanya berbisik, orang akan akur dan tunduk.

When Allah is your “friend”, who is your enemy? Bila Allah akrab dengan kita, siapakah yang berani memusuhi kita? King Richard yang berhati singa itu pun tunduk kepada Sultan Salehuddin Al Ayubi. Mengapa? Apakah hanya kerana kekuatan Salehuddin? Tidak, tetapi kerana akhlak dan keperibadiannya yang ditempa oleh zikirullah. Hasilnya, sifat pemaaf, kasih-sayang dan prihatinya, tidak terbatas. Merentas sepadan bangsa, negara dan agama.

Musuh tidak terlalu laju, tetapi orang Islam yang terlalu perlahan. Kita seharusnya ke depan dengan roh cinta dan kasih-sayang. Dengan cinta kita berdakwah, berhujah dan menjelaskan dengan penuh hemah dan hikmah tanpa dibauri oleh kebencian dan prasangka.

Dengan cinta kita tidak hanya menyebut nama-Nya, mengingati-Nya dan mendaulatkan hukum-hakam-Nya dalam diri tetapi kita akan kembangkan sayap cinta itu ke dalam rumah tangga, organisasi, masyarakat dan negara.

Kalau benar cintakan Allah, cintailah diri dan umat ini dengan banyak mengingati-Nya. Bangun seawal Subuh, bersih dan sucikan diri. Lalu solatlah untuk mengingati-Nya. Kemudian, bertebaranlah di muka bumi untuk mencari rezeki yang halal dengan meninggalkan segala bentuk rasuah, riba dan penyelewengan.

Atur keluarga mengikut syariat. Jauhkan pendedahan aurat. Perangi pergaulan bebas, racun hedonisme dan fesyen bohemian dalam kehidupan diri dan remaja kita. Pacu kemajuan ekonomi, tetapi jangan lupakan hukum Ilahi. Bersiasahlah tetapi jauhi fitnah dan kepentingan diri. Ingat Allah! Jaga halal dan haram dalam setiap perilaku dan perbuatan.

Kalau benar cintakan Allah… ingatlah: Cinta itu bukan kata-kata. Love is a verb – cinta itu tindakan. Bangkitlah dengan kecintaan bukan dengan satu kebencian. Jangan marahkan orang yang tidak cinta… jika kita sendiri tidak cinta.

Marahkan diri kita dahulu, sebelum marahkan mereka. Tidak malukah kita kepada Allah, justeru jika demikian… bererti cinta kita hanya kata-kata? Hanya pura-pura?

“MUFARAKAH” DOA DI JABAL RAHMAH

Saya tersenyum. Aneh pun ada. Lucu pun ada.

“Ya, ustaz… pada semua tempat kami berdoa bersama. Saya berdoa isteri aminkan dan diikuti oleh semua anak-anak kami tapi…” kata Haji Rahim serius.

“Bila kami berdoa di Jabal Rahmah, isteri saya tidak mengangkat tangan seperti biasa. Anak-anak sahaja yang mengaminkan doa saya,” tambahnya lagi.

“Tuan Haji doa perlahan kot?”

“Semua tempat saya berdoa perlahan. Baik di Multazam, Hijr Ismail, Pancur Emas semua diaminkan bersama. Tapi bila di Jabal Rahmah lain pula ceritanya,” sambil tersenyum Haji Rahim melirik isterinya di sebelah.

Saya turut senyum melihat isteri Hj Rahim senyum. Mereka berdua pasangan serasi. Ke mana pergi bersama. Suhu di Makkah yang membara itu seakan-akan didinginkan oleh kelembutan dan kesyahduan doa para tetamu Allah termasuk sepasang suami isteri ini, yang menemani saya makan, tengah hari itu.

“Kenapa kak?” saya bertanya kepada isteri Hj Rahim.

“Ustaz pun tahu apa yang sering didoakan oleh para jemaah di Jabal Rahmah kan?”

“Doa minta rahmah, maghfirah dan hidayah…” balas saya.

“Bukan itu, tapi doa yang khusus!” balas Kak Raha, isteri Hj. Rahim.

“Doa khusus?” saya bertanya lagi. Sengaja ingin dia meluahkan secara jelas dan tepat rasa hatinya.

“Ahh, doa minta jodoh. Bertemu pasangan…”

“Jadi apa masalah kak?”

“Dia takut saya doa minta jodoh,” tiba-tiba Hj. Rahim menyampuk. Isterinya tersenyum sambil meneguk lassy (susu masam) yang enak rasanya.

Senyum saya akhirnya bertukar jadi ketawa. Nasi Beriani ala Yaman di hadapan kami baru sedikit terusik. Berbanding makan kami lebih rancak berbual.

“Ohh begitu. Kak takut aminkan doa Hj. Rahim, takut-takut dia minta doa nak kahwin lagi?” ujar saya.

Kak Raha menunduk. Masih senyum.

Ah, hati perempuan, getus saya dalam hati. Begitulah hebatnya sensitiviti wanita – tentang cemburu, cinta dan kasih sayangnya, mampu menjangkau doa seorang lelaki.

“Hj. Rahim doa macam tu ke?” Kali ini saya pula “menguji” Hj. Rahim. Mana tahu, hati lelaki, kekadang sukar diteka. Dalam senyap-senyap lelaki juga bijak berstrategi, bukan menipu tetapi tak bagi tahu.

Perancangan dan strategi hendak kahwin lagi ini memang biasa “dilaksanakan” oleh segelintir suami di Makkah atau di Madinah. Sahabat saya Hj. Ramzi menceritakan pengalamannya meredakan “perang saudara” antara suami isteri di Tanah Suci, baik semasa mengerjakan umrah atau mengerjakan haji. Semuanya gara-gara suami hendak berpoligami. Maklumlah, di sana hati manusia lembut, syahdu, hiba. Kesempatan itu kekadang digunakan untuk sisuami mengajukan “proposal” untuk bernikah lagi. Jika isteri menerima, aman. Jika tidak… siap, perang meletus di situ juga!

“Ustaz, tak terlintas pun dalam hati saya nak bernikah lagi. Apa lagi nak berdoa macam tu..,” pintas Hj. Rahim memutuskan lamunan saya.

“Dengar tu kak Raha,” kata saya selaku “mediator”

“Bukan apa ustaz, saya bukan tak terima poligami tetapi…”

“Tak palah kak, saya faham. Kemampuan hati wanita berbeza,” kata saya meredakan.

“Bagaimana kalau macam ni…” tiba-tiba Hj. Rahim membuka semula gelanggang perbincangan semula.

Saya terkejut. Isu ini sangat sensitif, silap-silap “mediator” terjebak sama.

“Macam mana Tuan Haji?”

“Begini. Katalah si suami berdoa kepada Allah minta sangat nak berpoligami. Isteri pula berdoa kepada Allah supaya janganlah Allah takdirkan suaminya berpoligami. Doa siapa yang Allah nak makbulkan?”

Tersentak. Soalan macam ni pun ada. Unik betul pasangan suami isteri ini. Nampak tenang, aman tapi soalannya tajam-tajam. Namun saya masih boleh tersenyum. Santai-santai. Ini bukan forum perdana, hanya perbualan biasa

“Sama-sama ikhlas. Sama-sama ada “reason” yang baik. Bukan kerana suami nak melampiaskan nafsu, bukan kerana isteri hasad dengki atau cemburu buta. Kedua-dua mereka sama-sama tulus dan lurus kerana Allah. Tetapi doa mereka sahaja yang berbeza!” tambah Hj. Rahim menambah kusatnya soalan yang sudah jadi persoalan itu.

“Insya-Allah, Allah akan makbulkan doa yang terbaik,” jawab saya akhirnya. Perlahan. Takut juga saya menjawab soalan itu, seolah-olah didesak menjawab bagi pihak Allah. Padahal saya hanya hamba-Nya.

“Terbaik untuk siapa?” Hj. Rahim dan isterinya bersuara serentak.

“Terbaik untuk kedua-duanya!”

“Bagaimana tu?”

Ya, jika poligami itu baik untuk kedua-duanya… poligami itulah yang Allah akan izinkan berlaku. Jika sebaliknya, poligami itu tidak baik buat kedua-duanya, poligami itu tidak akan berlaku.”

“Tak faham saya ustaz. Kalau poligami itu berlaku, memanglah baik untuk si suami… tetapi tak akan baik juga untuk si isteri?” Kak Raha minta penjelasan.

“Baik juga untuk siisteri, “ tegas saya.

“Bagaimana?”

“Kak, kita perlu kembali kepada Tauhid. Allah itu Al Alim. Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita berbanding diri kita sendiri. Jika poligami itu baik, bukan sahaja suami yang berdoa untuknya dapat kebaikan, malah siisteri yang tidak berdoa untuk itu pun akan dapat kebaikan!”

Keduanya diam.

“Berapa banyak perkara yang kita sangka buruk, akhirnya memberi kebaikan kepada kita. Dan berapa banyak pula perkara yang kita sangka baik pada asalnya memberi keburukan. Kita tidak tahu, Allah Maha Tahu,” kata saya mengulangi apa yang telah Allah tegaskan firman-Nya (surah Al Baqarah ayat 216.)

“Dan kalau poligami itu tidak berlaku… jangan pula suami bersedih. Itu tentu lebih baik bukan sahaja untuk isterinya tetapi untuk dirinya juga. Allah tahu tahap kemampuan lahir dan batin kita. Mungkin fizikal dan material kita ok, tapi bagaimana dengan kemampuan memberi ilmu dan mendidik?”

“Kalau tidak suami akan menanggung beban dunia dan akhirat kan ustaz?” tekan Kak Raha. Saya menjeling Hj. Rahim. Dia senyum.

“Begitu juga isteri kalau dah ditakdirkan dia dimadukan, pasti ada kebaikan yang akan dinikmatinya nanti. Ubat selalunya pahit,” balas saya supaya adil.

"Awak jangan takut… kalau saya doa poligami nanti, saya akan doa kuat-kuat tahu. Awak mesti aminkan,” kata Haji Rahim mengusik.

“Dan kalau nanti saya doa kuat-kuat abang tak berpoligami pun, abang kena aminkan juga,” balas kak Rahah turut mengusik. Saya ketawa – terubat keletihan melihat kemesraan mereka berdua.

Malam itu, saya termenung panjang. Persoalan siang tadi, kembali menerjah ingatan. Walaupun itu hanya satu daripada jutaan persoalan yang bergolak dalam jiwa umat ini tetapi itu menunjukkan betapa jahil dan jahilnya kita sebagai manusia. Betapa kadangkala hati kita sendiri bertanya kenapa jadi begitu dan mengapa ini yang terjadi ? Padahal kita hanyalah hamba-Nya. Mengapa dan kenapa.. apabila ditujukan kepada takdir akan menyebabkan kita hilang ketenangan.

Insiden “mufarakah” doa di Jabal Rahmah, menghadiahkan sebuah hikmah. Ya, akhirnya saya hanya mampu berdoa, “ya Allah, bantulah hati ini memahami, menghayati dan merasai keindahan takdir-MU. Jadikanlah aku hamba yang sebenar-benarnya hamba – yang pasrah dan menyerah, seluruh dan sepenuh.” Bukan menafikan tadbir, bukan tidak boleh berdoa… tetapi bila takdir sudah memutuskan pasrah dan menyerahkan. Ingat, the believer asks no questions, while no answer can satisfy the unbeliever!

Friday, January 15, 2010

10 Amalan Terbaik Tapi Terbalik

Marilah kita bermuhasabah atau menilai dan menghitung kembali tentang amalan harian kita. Kadang-kadang kita akan dapati amalan kita adalah terbalik atau bertentangan dari apa yang patut dilakukan dan dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sedar atau telah dilalaikan atau terikut-ikut dengan budaya hidup orang lain. Perhatikan apa yang dipaparkan dibawah sebagai contoh amalan yang terbalik:-


1. Amalan kenduri arwah beberapa malam yang dilakukan oleh keluarga simati selepas sesuatu kematian (malam pertama, kedua, ketiga,ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah di mana Rasulullah telah menganjurkan jiran tetangga memasak makanan untuk keluarga simati untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka. Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyedia makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan kenduri tersebut khuatir kalau-kalau mereka termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh simati atau harta peninggalan simati yang belum dibahagikan kepada yang berhak menurut Islam?

2. Kalau hadir ke kenduri walimatul urus (kenduri kahwin) orang kerap Assalamu'alaikum berisi (hadiah wang yang diberi semasa bersalam).Kalau tak ada duit nak dikepit dalam tangan, maka segan ia nak pergi makan kenduri.Tetapi kalau ia menziarah orang mati, tidak segan pula Assalamu'alaikum tak berisi. Sepatutnya kalau menziarah keluarga si matilah kita patut memberi sedekah. Kalau ke kenduri kahwin, tak bagi pun tak apa kerana tuan rumah panggil untuk diberi makan bukan untuk ia menambah pendapatan.

3. Ketika menghadiri majlis pemimpin negara kita berpakaian cantik kemas dan segak tetapi bila mengadap Allah baik di rumah maupun di masjid,pakaian lebih kurang saja bahkan ada yang tak berbaju. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik.

4. Kalau menjadi tetamu di rumah orang dan di beri jamuan, kita rasa segan nak makan sampai habis apa yang dihidangkan kerana rasa segan dan malu, sedangkan yang dituntut dibanyakkan makan dan dihabiskan apa yang dihidang supaya tuan rumah rasa gembira dan tidak membazir.

5. Kalau bersolat sunat di masjid amat rajin, tapi kalau di rumah,sangat malas. Sedangkan sebaik-baiknya solat sunat banyak dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengelakkan rasa riak.

6. Bulan puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahawa dalam carta perbelanjaan setiap rumah orang Islam akan kita dapati perbelanjaan di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Sedangkan sepatutnya perbelanjaan dibulan puasa yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita?

7. Kalau nak mengerjakan haji, kebanyakan orang akan membuat kenduri sebelum bertolak ke Mekah dan apabila balik dari Mekah tak buat kenduri pun. Anjuran berkenduri dalam Islam antaranya ialah kerana selamat dari bermusafir, maka dibuat kenduri, bukan kerana nak bermusafir, maka dibuat kenduri. Bukankah amalan ini terbalik? Atau kita mempunyai tujuan lain.

8. Semua ibubapa amat bimbang kalau-kalau anak mereka gagal dalam periksa. Maka dihantarlah ke kelas tuisyen walau pun banyak belanjanya.Tapi kalau anak tak boleh baca Quran atau solat, tak bimbang pula bahkan tak mahu hantar tuisyen baca Quran atau kelas khas mempelajari Islam. Kalau guru tuisyen sanggup dibayar sebulan RM20.00 satu pelajaran 8 kali hadir tapi kepada Tok Guru Quran nak bayar RM15.00 sebulan 20 kali hadir belajar pun menggeletar tangan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih berbimbang jika anak tidak dapat baca Al Quran atau bersolat dari tidak lulus periksa.

9. Kalau bekerja mengejar rezeki Allah tak kira siang malam, pagi petang,mesti pergi kerja. Hujan atau ribut tetap diharungi kerana hendak mematuh peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) tak hujan, tak panas,tak ribut pun tetap tak datang ke masjid. Sungguh tak malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi nak ke rumahNya segan dan malas.

10. Seorang isteri kalau nak keluar rumah samada dengan suami atau tidak, bukan main lagi berhias. Tetapi kalau duduk di rumah, masyaAllah.Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya, bukan berhias untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuatkan rumahtangga kurang bahagia.

Monday, January 4, 2010

9 Peringkat Solat - Kita Tergolong Dalam Peringkat Mana??

Golongan 1.
Kita boleh lihat hari ini sudah ramai umat islam yang tak sembahyang, bahkan ramai juga yang tak tahu nak sembahyang. Imam Malik kata jatuh kafir kalau tak sembahyang tanpa sebab. Imam Syafi kata jatuh fasik (pun masuk neraka juga) kalau ia masih yakin sembahyang itu fardu.

Golongan 2.

Orang yang mengerjakan sembahyang secara zahir sahaja, bacaan pun masih tak betul, taklid buta, main ikut-ikut orang saja. Belajar sembahyang maupun secara resmi atau tak resmi tak ada. Ilmu tentang sembahyang tiada. Golongan ini tertolak bahkan berdosa besar dan hidup dalam keadaaan derhaka kepada Allah Taala.

Golongan 3.

Orang yang mengerjakan sembahyang, bahkan tahu ilmu mengenai sembahyang, tetapi tak boleh lawan nafsu terhadap tarikan dunia yang kuat. Jadi mereka ini sekejap sembahyang, sekejap tidak. Kalau ada masa dan mood baik ia sembahyang, kalau sibuk dan terkocoh kacah, ada program kenduri, pesta ria, berziarah bermusafir, letih dan penat, maka ia tak sembahyang.Orang ini jatuh fasik.

Golongan 4.

Orang yang sembahyang, kalaupun ilmunya tepat, fasih bacaannya,tetapi tak khusyuk kalau diperiksa satu persatu bacaannya, lafasnya banyak yang dia tak faham, fikirannya tak terpusat atau tak tertumpu sepenuhnya pada sembahyang yang dilaksanakannya itu disebabkan tak faham apa yang dia baca. Cuma main hafal saja. Jadi fikirannya terus tertumpu pada dunia dan alam sekelilingnya. Fikirannya mengembara dalam sembahyang, orang ini lalai dalam sembahyang. Neraka wail bagi orang ini.

Golongan 5.

Golongan yang mengerjakan sembahyang cukup lima waktu, tepat ilmunya, faham setiap bacaan sembahyang, fatihahnya, doa iftitahnya, tahiyyatnya, tapi tak dihayati dalam sembahyang itu. Fikirannya masih melayang mengingatkan perkara dunia, dek kerana faham saja tetapi tidak dihayati. Golongan ini dikategorikan sebagai sembahyang awamul muslimin.

Golongan 6.

Golongan ini baik sedikit dari golongan yang ke lima tadi, tetapi main tarik tali didalam sembahyangnya, sekali sekala khusyuk, sekali sekala lalai pula. Bila teringat sesuatu didalam sembahyangnya, teruslah terbawa bawa, berkhayal dan seterusnya. Bila teringat Allah secara tiba tiba maka insaf dan sedarlah semula, cuba dibawa hatinya serta fikirannya untuk menghayati setiap kalimat dan bacaan didalam sembahyangnya. Begitulah sehingga selesai Sembahyangnya. Ia merintih dan tak mahu jadi begitu, tapi terjadi jua. Golongan ini adalah golongan yang lemah jiwa. Nafsunya bertahap mulhamah (ertinya menyesal akan kelalaiannya dan cuba baiki semula, tapi masih tak terdaya kerana tiada kekuatan jiwa). Golongan ini terserah kepada Allah.Yang sedar dan khusyuk itu mudah mudahan diterima oleh Allah, mana yang lalai itu moga moga! Allah ampunkan dosanya, namun tiada pahala nilai sembahyang itu. Ertinya sembahyangnya tiada memberi kesan apa - apa. Allah belum lagi cinta orang ini.

Golongan 7.

Golongan yang mengerjakan sembahyangyang tepat ilmunya, faham secara langsung bacaan dan setiap lafaz didalam sembahyangnya. Hati dan fikirannya tidak terbawa-bawa dengan keadaan sekelilingnya sehingga pekerjaan atau apa pun yang dilakukan atau yang difikirkan diluar sembahyang itu tidak mempengaruhi sembahyangnya. Walaupun ia memiliki harta dunia, menjalankan kewajiban dan tugas keduniaan seperti perniagaan dan sebagainya namun tidak mempengaruhi sembahyangnya. Hatinya masih dapat memuja Allah didalam sembahyangnya. Golongan ini disebut orang-orang soleh / golongan abrar / ashabul yamin.

Golongan 8.

Golongan ini seperti juga golongan tujuh tetapi ia mempunyai kelebihan sedikit iaitu bukan saja faham, dan tak mengingati dunia didalam sembahyangnya, malahan dia dapt menghayati setiap makna bacaan sembahyangnya itu, pada setiap kalimah bacaan fatihahnya, doa iftitahnya, tahiyyatnya, tasbihnya pada setiap sujudnya dan setiap gerak gerinya dirasai dan dihayati sepenuhnya. Tak teringat langsung dengan dunia walaupun sedikit . Tapi namun ia masih tersedar dengan alam sekelilingnya. Pemujaan terhadap Allah dapat dirasai pada gerak dalam sembahyangnya. Inilah golongan yang dinamakan golongan Mukkarrabin (Yang hampir dengan Allah )

Golongan 9.

Golongan ini adalah golongan yang tertinggi dari seluruh golongan tadi. Iaitu bukan saja ibadah sembahyang itu dijiwai didalam sembahyang malahan ia dapat mempengaruhi di luar sembahyang. Kala! u ia bermasalah langsung ia sembahyang, kerana ia yakin sembahyang punca penyelesai segala masalah. Ia telah fana dengan sembahyang. Sembahyang telah menjadi penyejuk hatinya. Ini dapat dibuktikan didalam sejarah, seperti sembahyang Saidina Ali ketika panah terpacak dibetisnya. Untuk mencabutnya, ia lakukan sembahyang dulu, maka didalam sembahyang itulah panah itu dicabut. Mereka telah mabuk dengan sembahyang. Makin banyak sembahyang makin lazat, sembahyanglah cara ia nak lepaskan kerinduan dengan tuhannya. Dalam sembahyanglah cara ia nak mengadu-ngadu dengan Tuhannya. Alam sekelilingnya langsung ia tidak hiraukan. Apa yang nak jadi disekelilingnya langsung tak diambil peduli. Hatinya hanya pada Tuhannya. Golongan inilah yang disebut golongan Siddiqin. Golongan yang benar dan haq.

Setelah kita nilai keseluruhan 9 peringkat sembahyang itu tadi, maka dapatlah kita nilai sembahyang kita di tahap yang mana. Maka ibadah sembahyang yang boleh membangunkan jiwa, membangunkan iman, menjauhkan dari yang buruk boleh mengungkai mazmumah, menanamkan mahmudah, melahirkan disiplin hidup, melahirkan akhlak yang agung ialah golongan 7, 8 dan 9 sahaja. Sembahyangnya ada kualiti, manakala golongan yang lain jatuh pada kufur fasik dan zalim.

 




Jadi dimanakah tahap sembahyang kita ? Marilah sama2 perbaiki diri kita mulai dari sekarang



Sunday, December 20, 2009

SAHABAT, Usah Rosakkan Persahabatan Kita







Dalam menjalinkan hubungan persahabatan, memang sukar utk menjaga hati dan perasaan seseorang sahabat.  Kadang-kala apa yang dilakukan ada sahaja yang tidak kena dan kemudian timbul cakap-cakap belakang yang menyatakan rasa tidak puas hati.  Namun, kita harus sedar, sebagai insan biasa kita tidak sempurna.  Oleh itu, sikap saling hormat-menghormati, berterus-terang dan saling percaya penting dalam menjaga hati seseorang sahabat.  Semak beberapa tips di bawah bagaimana cara untuk kita menjaga persahabatan agar terus berkekalan sehingga ke akhir hayat. Insyaallah.


1) Jangan Lempar Penghinaan


-  jangan sesekali merendahkan, mengejek dan menghina sahabat dlm bentuk apapun, baik tentang keperibadian, bentuk fizikal, keadaan sosial, dan sebagainya.  Elakkan berbuat demikian krn tidak ada masalah yang selesai dgn penghinaan dan mencela bahkan yang ada nanti hanyalah perasaan sakit hati serta rasa dendam antara satu sama lain.


2) Jangan Campur Urusan Peribadi


- jangan dan jika boleh cuba elakkan mencampuri urusan peribadi sahabat yang tak ada manfaatnya jika kita terlibat.  Seperti yang kita maklum, setiap individu mempunyai urusan dan masalah peribadi yang kadang-kala tidak boleh diceritakan walaupun dgn sahabat sendiri.  Ia adalah sesuatu yang sgt sensitif dan jika tersalah cakap ia boleh menimbulkan kemarahan sahabat.


3) Jangan Buat Perbandingan


-  jangan sesekali membandingkan jasa, kebaikan, penampilan, harta, kedudukan seseorang sehingga sahabat yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah diri atau merasa terhina.


4) Jangan Menyampuk Bila Bercakap


-  sungguh tidak sopan apabila kita sedang bercakap kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal.  Latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mencelah perbualan dgn cara terbaik dan pada waktu yang tepat dan sesuai.


5) Jangan Ungkit Kisah Lalu


-  ingatlah bahawa setiap orang memiliki rahsia dan kesilapan yang tidak mahu diceritakan kpd orang lain, begitu juga dgn diri kita sendiri.  Oleh itu, janganlah cuba untuk mengungkit dan menceritakannya kpd orang lain.  Takut ia akan menyakiti hati sahabat dan menjejaskan ikatan persahabatan hanya krn telah membongkarkan kekurangan yang dimilikinya.


6) Kawal Kemarahan Dengan Baik


-  apabila kamu marah, maka berhati-hatilah krn kemarahan yang tidak terkawal boleh mempengaruhi tingkah-laku dan percakapan.  Jika kemarahan tidak dikawal dengan baik, takut akan melukai hati sahabat seterusnya menghancurkan hubungan baik dengannya.  Kawal amarah dengan sebaik mungkin dan jika ia tetap terjadi, lontarkanlah kata-kata yang tidak akan emnyakiti hati sahabat.  Cuba redakan kemarahan dalam masa yang singkat dan pohonlah kemaafan seandainya kata-kata yang diluahkan itu dirasa keterlaluan.


7) Jangan Ketawakan Sahabat


-  jangan mentertawakan sahabat krn kekurangan yang dimilikinya.  Ini termasuklah kekurangan drpd segi penampilan, rupa, bentuk badan, dan sebagainya.  Ingatlah, ketawa yang berlebihan dan tidak kena pada tempatnya akan mengundang rasa sakit hati sahabat.